07 Desember, 2011

Jangan sembarangan minum antibiotik

MENGONSUMSI antibiotik saat terserang penyakit infeksi tidak boleh sembarangan. Jika tidak, risiko terjadinya resistensi antibiotik yang akan mempersulit pengobatan, kesakitan lebih lanjut hingga kematian akan meningkat.
Penyakit infeksi masih berada pada urutan teratas penyebab kesakitan dan kematian di negara berkembang, termasuk Indonesia. Jumlah kasus penyakit infeksi juga semakin bertambah setiap harinya. Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT), 31,2 persen angka kematian di Indonesia pada 2001 disebabkan oleh penyakit infeksi.
Angka tersebut tentu saja dapat ditekan jika dilakukan diagnosa yang cepat dan tepat serta didukung oleh penanganan yang efektif dan efisien. Dalam penanganan penyakit infeksi, pemberian antibiotik perlu diperhatikan dengan serius.
Tidak semua penyakit infeksi memerlukan antibiotik. Pemberian antibiotik dapat dibenarkan jika penyakit yang diderita disebabkan oleh infeksi bakteri. Pemberian antibiotik yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko terjadinya resistensi antibiotik yang akan mempersulit pengobatan infeksi serta meningkatkan resiko kesakitan dan kematian.
“Tidak semua penyakit infeksi perlu diobati dengan antibiotik. Ada tiga faktor yang musti dipenuhi,” kata DR.dr.Suhendro, Sp.PD KPTI, Spesialis Penyakit Dalam, Konsultan Penyakit Tropik & Infeksi RS Pondok Indah (RSPI) dalam seminar sehari “Pengobatan Terkini Kasus Infeksi”di RSPI, Jakarta beberapa waktu lalu.
Ketiga faktor tersebut, terang dia, pertama adalah diagnosis dan alasan penggunaan antibiotik. Sering kali dalam praktek sehari-hari untuk membedakan diagnosis infeksi karena virus atau bakteri, sehingga diperlukan pemeriksaan laboratorium untuk membantu menegakan diagnosis.
Lalu kedua, sifat-sifat antibiotika yang diberikan, apakah mempunyai sifat bakteriostatik atau bakterisidal. Untuk infeksi berat atau pada penderita dengan daya tahan imunisasi menurun, kata Suhendro, sebaiknya dipilih antibiotik yang bersifat bakterisidal. Antibiotik dipilih sedapat mungkin memiliki spektrum sempit dapat ditoleransi dengan baik dengan harga yang relatif murah.
“Dan yang terakhir, faktor kondisi yang mendasari host, seperti riwayat alergi obat atau intoleransi, gangguan fungsi ginjal dan hati,“ ujarnya.
Suhendro menuturkan, perubahan farmakologi obat yang terjadi juga harus dipertimbangkan saat pemberian antibiotik. Misalnya, penurunan fungsi ginjal, kemungkinan aksi antar obat dan toksisitas obat yang meningkat.
Beta-laktam antibiotik merupakan salah satu antibiotik yang paling sering diberikan untuk pengobatan infeksi pada pasien usia lanjut. Antibiotik ini memiliki spektrum yang luas, farmakokinetik dan tingkat keamanan yang baik, tidak memerlukan pengukuran konsentrasi serum.
“Pengunaan antibiotik yang rasional tidak saja memiliki keuntungan secara klinis bagi pasien, namun juga memiliki keuntungan secara ekonomis. Pemilihan terapi antibiotik yang tidak sesuai akan menyebabkan kegagalan terapi dan efek samping, sehinga akan memperpanjang lama rawat di rumah sakit serta meningkatkan biaya perawatan, ”ungkapnya.
Untuk memastikan penyebab penyakit, diperlukan pemeriksaan mendalam baik dari gejala yang tampak maupun gejala yang tak tampak. Gejala tampak bisa dirasakan sendiri oleh penderita tanpa pemeriksaan lebih dalam di klinik, sedangkan gejala tak tampak harus diperiksa ke laboratorium untuk diperiksa lebih lanjut.
Berdasarkan pemeriksaan yang benar tersebut, maka dapat dilakukan penanganan medis efektif. Sementara itu, pada anak-anak, pengobatan melalui pemberian antibiotik harus lebih diperinci lagi.
Diketahui, demam pada anak 90-95 persen disebabkan oleh virus, hanya 5-10 persen yang disebabkan oleh bakteri. Karakteristik demam dapat membantu membedakan infeksi bakteri dengan virus.
Demam dengan suhu tinggi dan durasi lama disebabkan oleh bakteri dibandingkan oleh virus. Pemberian antibiotik pada demam anak dapat dibenarkan jika suhu anak di atas 40 derajat celsius dengan usia kurang dari 36 bulan (3 tahun) tanpa fokus infeksi yang jelas.
Panduan dosis antibiotik biasanya berdasarkan atas uji klinis pada anak normal yang sehat atau merupakan ekstrapolasi dari data pada dewasa. Pemilihan antibiotik awal harus berdasarkan data pola kuman dan resistensi setempat.
Dr. H. Hindra Irawan Satari, Sp.A (K),MTropPaed, Spesialis Anak, Konsultan PenyakitInfeksi dan Pediatri Tropis RSPI menjelaskan, keputusan untuk memulai terapi antibiotika pada anak harus didasarkan pada temuan infeksi bakteri yang dibuktikan dengan biakan. Secara klinik, infeksi bakteri umumnya berupa demam tinggi yang melampaui 40 derajat celsius selama lebih dari tiga hari
(Sumber Okezone.com)
Baca artikel terkait:
1.Merawat Bayi dan Balita
2.Bahaya susu formula
3.Jika anak terserang kejang/step
4.Diare akibat Rotavirus
5.Pedoman jadwal imunisasi
6.Aturan pemakaian obat antibiotik

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar