18 Oktober, 2010

CATATAN PERJALANAN MUDIK LEBARAN 2010



Lebaran tahun ini terasa begitu spesial buat kami sekeluarga karena tahun ini kami dianugerahi seorang bidadari kecil yang hadir dalam kehidupan kami. Namun proses mudik lebaran ini cukup membuat kami was-was karena kondisi kesehatan ku yang saat ini sedang kurang baik. Karena kebetulan hanya saya yang bisa menyetir mobil, sementara istri belum begitu menguasai.
Puasa hari ke-26 tepatnya hari Senin 6 September 2010 jam 04.00 WIB kami berenam (saya, istri, anak, dan 3 orang adik saya dan adik istri) dengan mengendarai mobil Panther Royal tahun 1999 mulai perjalanan dari Ragunan Jakarta Selatan menuju ke Bandung via tol JORR-Cikunir-Cipularang. Sengaja saya lewat Bandung karena saya berencana memperpanjang STNK mobil yang memang bernomor polisi Bandung. Sampai di Bandung kami keluar di gerbang Pasteur sekitar jam 06.00 WIB. Kemudian kami lanjutkan menuju rumah tema di kota Bandung di daerah Cicadas karena rencananya saya akan melakukan perpanjangan STNK mobil yang habis bulan ini.
STNK selesai pukul 12.00 WIB, kami lanjutkan kembali perjalanan via dalam kota menuju Cilenyi. Cuaca gerimis dan kemacetan sangat terasa mulai daerah depan terminal Cicahem terus ke Ujung berung dan sampai gerbang toll Cilenyi. Setelah gerbang toll Cilenyi cuaca mendung namun hujan belum turun, lalu lintas juga sudah mulai lancar sampai kampus IPDN di daerah Jatinangor. Medan jalan mulai menanjak tajam setelah kampus UNPAD dan kemacetan kembali terjadi. Saat tiba disebuah SPBU saya teringat pesan salah seorang teman yang mengatakan dari Jatinangor sampai Sumedang hanya ada satu SPBU, jadi segera saya isi tanki solar saya sampai penuh. Setelah melewati sebuah pasar lalul lintas kembali lancar namun hujan kembali turun. Medan jalan berkelok dan menurun dengan pemandangan pegunungan indah. Tepat di daerah Cadas Pangeran kami melihat pemandangan yang sangat indah, mengingatkan kami akan indahnya daerah Pujon dan Batu di Malang. Iring-iringan mobil pribadi milik para pemudik membuat kami tidak bisa memacu mobil dengan cepat.
Setelah melewati daerah pegunungan hampir 2 jam, akhirnya kami sampai di kota Sumedang. Sepintas kota ini dikelilingi pegunungan dengan udara sejuk. Sepanjang jalan dalam kota terdapat banyak penjual tahu sumedang yang terkenal tersebut. Kami sempatkan mampir di salah satu warung penjual tahu dan kami membeli 5 keranjang kecil dengan harga Rp.15000 / keranjang. Perjalanan kami lanjutkan kembali meninggalkan kota Sumedang.
Setengah jam kemudian kami sampai di daerah Jatiwangi yang terkenal sebagai sentra penghasil genteng Jatiwangi yang cukup terkenal tersebut. Perjalanan terus kami lanjutkan sampai tiba di daerah Kadipaten yang juga merupakan pertemuan dengan jalur mudik tengah via Subang. Perjalanan kami tidak bisa cepat karena tepat di depan kami terdapat dua truk besar yang cukup menyulitkan untuk didahului.
Pukul 16.30 kami baru memasuki kota Cirebon, segera saya memilih jalan tol dengan masuk gerbang Plumbon, lega rasanya sudah sampai daerah Cirebon. Mobil tetap saya pacu hingga keluar gerbang Kanci, sengaja saya pilih kanci dengan tidak memasuki jalan Toll Bakrie karena saya berancana beristirahat di SPBU Kanci. Pukul 17.00 kami memasuki salah satu SPBU yang berada setelah pasar Gebang, cuaca saat itu hujan lebat. Sambil menunggu saat berbuka puasa, kami beristirahat dan melihat banyak pemudik bermotor yang juga beristirahat karena hujan. Saat adzan magrib berkumandang, kami menyantap makanan yang dijajakan para pedagang di area SPBU tersebut.
Pukul 19.00 kami melanjutkan perjalanan, segera kami memasuki kota Brebes kemudian Tegal dan Pemalang. Namun kami mengalami masalah dengan mobil kami yang tiba-tiba mogok di tengah-tengah jembatan yang teletak 10km dari kota Pemalang. Setelah mencoba beberapa kali, mobil bisa kami kendarai kembali. Namun 500m kemudian mobil kembali mogok persis di lampu merah di pertigaan (saya lupa namanya). Kembali saya coba beberapa kali dan ternyata mobil kembali bisa berjalan, namun kembali 300m mogok kembali tepat di depan sebuah bengkel yang terliha tutup. Saat itu sekitar pukul 21.00 WIB, saya putuskan untuk istirahat saja, karena saya yakin ada masalah dengan mesin mobil. Saya heran dengan kejadian mogoknya mobil Panther Royal tahun 1999 yang kami bawa ini, gejalanya mirip gejala mobil yang masuk angin karena kehabisan solar. Padahal indikator bahan bakar menunjukkan Solar masih 75%. Saya buka kap mesin dan mencoba memompa solar, namunyang aneh pompa solar tidak seperti kondisi normal dimana handle pompanya tidak menyembul melainkan menempel dengan bodynya sehingga tidak bisa dipompa. Sejenak saya berpikir dan saya teringat memiliki banyak bekas pekerja proyek yang ada di daerah Comal. Benar saja segera saya hubungi salah seorang mandor yang saya kenal. Setengah jam kemudian dia datang dan mengetuk bengkel tersebut (tadinya saya berpikir bengkel tersebut tutup) tak disangka keluar salah seorang penjaga bengkel. Setelah berdialog beberapa saat, kemudian penjaga tersebut menghubungi salah seorang mekaniknya. Sepuluh menit kemudian sang mekanik datang dan segera membongkar pompa solar, kutak katik sekitar 15 menit pasang kembali dan greng..mobil kembali bisa menyala. Seperti ada kotoran sbesar biji pasir ada di pompa solar dan menurut mekaniknya itu yang membuat pompa solar tidak bisa memompa solar dari tangki ke roang bakar sehingga mobil terasa kehabisan solar. Saya dan mekanik tersebut kemudian test drive dan hasilnya mobil sudah normal kembali. Setelah membayar jasa service sebesar Rp.100ribu, kami melanjutkan perjalanan.
Mobil melaju dengan normal tanpa menunjukkan gejala seperti sebelumnya. Pukul 01.00 kami sampai di Alas roban dan beristirahat di salah satu SPBU disana hampir 30 menit. Solar saya isi penuh dan kami melanjutkan perjalanan kembali. Target saya bisa sampai di Demak pukul 03.00 tepat sebelum imsak sehingga kita bisa menjalankan puasa esok harinya. Tepat pukul 03.15 kami sampai di Rumah, lega rasanya perjalanan lancar. Kami sahur dan rasa kantuk sudah tidak dapat saya bendung lagi karena hampir 23 jam saya nyetir mobil dari Jakarta – Bandung – Cirebon – Demak, tanpa ada pengganti.
Tanggal 7 September Pukul 09.00 pagi saya terbangun dan segera saya ke garasi untuk sekedar memanaskan mesinnya. Kembali mobil menunjukkan gejala sama saat mogok di Comal, dan benar mobil kembali mogok. Saya teringat seorang teman sokolah SD dulu yang saat ini bekerja menjadi seorang mekanik, hari berikutnya dia datang dan segera memeriksa pompa solar. Ternyata pompa solar kondisinya masih bagus, sehingga dia mendiagnosa kalau masalahnya bukan di pompa solar melainkan di tanki solar ada penyumbat. Segera dia turunkan tanki dan benar ada 2 potong plastik bungkus makanan kecil ada disana, solar dikuras dan plastik diambil trus pasang kembali. Mobil menyala kembali tanpa hambatan. Pukul 11.00 WIB kami sekeluarga ke kota Kudus untuk berbelanja kebutuhan lebaran, tempat pertama yang kami kunjungi adalah Toko Emas Tjandi di jalan Sunan Kudus, disana aku membelikan gelang tangan dan gelang kaki buat anakku. Setelah itu kami melanjutkan ke Matahari Dept. store dan berbelanja kebutuhan lebaran disana.
Tanggal 9 September 2010 pukul 18.00 berkumandang takbir menandai esok hari adalah hari raya Idul Fitri. Saya menyalakan petasan dan kembang api untuk menghibur anakku, dia senang sekali dengan petasan kembang api. Malam ini ada acara takbir keliling desa yang menampilkan kreasi tiap-tiap mushola yang ada di desa kami. Mushola depan rumah kami menampilkan replika tugu monas, ada juga mushola yang menampilkan replika tank tempur, replika masjid Agung Demak, dan yang paling lucu menurut saya adalah replika tuyul yang tertangkap dan dipenjara oleh seorang ustad yang diperankan 2 orang anak kecil didandani mirip tuyul.
Tanggal 10 September 2010 pukul 06.00 kami berangkat ke masjid untuk menunaikan sholat Ied, setelah selesai kami sekeluarga melakukan acara sungkeman kepada kedua orang tua dan melakukan silaturahmi ke sanak saudara sekitar rumah. Pukul 10.00 kami berangkat menuju kota Jepara untuk bersilaturahmi dengan sanak saudara disana. Pukul 11.00 kami sampai di rumah sanak saudar di Jepara, setealh selesai bersilaturahmi kami melanjutkan ke salah satu tempat wisata di kota Jepara yakni pantai Kartini. Disana terdapat patung penyu dengan ukuran sangat besar, tingginya sekitar 12meter dan ukuran badannya sekitarnya 20mx30m. Kami berfoto bersama di area pantai sampai pukul 13.00, kami melanjutkan perjalanan menuju tempat ustadz yang sudah 10 tahun saya tidak pernah bertemu. Kami ambil jalan melalui Mayong – Kudus – Cangkring pos, kami disana sampai pukul 16.00 setelah itu kami mampir di salah satu sanak saudara di desa sebelah kemudian kami pulang ke rumah.
Pukul 02.00 WIB kami melanjutkan perjalanan menuju Nganjuk Jawa Timur tempat tinggal istri saya. Cuaca gerimis namun lalu lintas sangat lengang sehingga perjalanan terhitung sangat lancar. Tanggal 11 Sept pukul 05.30 kami sudah sampai di Tuban, sejenak kami beristirahat di tepi pantai depan terminal lama, 15 menit kemudian kami lanjutkan perjalanan sampai di Nganjuk pukul 07.30. Hari itu kami isi dengan istirahat di rumah. Baru pukul 18.00 kami melakukan kunjungan ke keluarga di Jombang sampai pukul 23.00. Esok hari tanggal 12 Sept 2010 kami lanjutkan silaturahmi ke saudara lainnya di daerah Baron, pulangnya kami lewat daerah Kertosono ternyata sedang ada pembukaan The Legend Water Park sehingga lalu lintas macet. Karena cuaca gerimis membuat lapar kamipun mampir di warung mie ayam miliki salah seorang kerabat, setelah itu kami pulang ke rumah. Rencananya malam ini kami mau melihat orkes dangdut Sera di daerah Lengkong, namun pukul 18.00 ada salah seorang warga desa yang sakit dan minta tolong diantarkan ke Rumah sakit dengan mobil, akhirnya bersama Bpk. Lurah saya bawa warga ini ke RSUD Jombang sampai pukul 22.00 Wib sehingga rencana menonton musik batal.
Tanggal 13 Sept 2010, kami sekeluarga melakukan perjalanan menuju tempat wisata Air terjun Sedudo di daerah Sawahan Nganjuk. Jalan menuju lokasi wisata beraspal cukup bagus, namun penuh dengan tanjakan panjang. Hal ini membuat mesin mobil bekerja keras, sehingga buat anda sekalian yang berniat kesana saya sarankan agar kondisi mobil benar-benar bagus. Sesampai di tempat wisata, pemandangan sangat indah karena semuanya masih alami, pengunjungpun tampak memadati lokasi wisata. Air terjun terasa dingin dengan latar pemadangan tebing batu terjal dan kabut tebal yang tiba-tiba menyapu membuat suasana sangat nyaman. Sungguh semua jenuh dan penat selama di Jakarta sejenak sirna dengan pemadangan dan suasana alami di Sedudo. Pukul 16.30 kami pulang lewat kota Nganjuk, ternyata jarak tempuhnya lebih dekat dibanding saat berangkat yang melalui rute Kediri.
Tanggal 14 Sept 2010, kami berangkat menuju Samsat kota Nganjuk untuk memperpanjang pajak kedaraan motor saya. Cuaca sangat terik dan selama perjalanan kami banyak bertemu dengan para pengendara motor yang berencana balik ke Surabaya. Setiba di Samsat, semuanya saya urus sendiri, ternyata hanya butuh waktu kurang dari 10 menit dan pajak STNK baru langsung jadi. Pukul 14.00 kami tiba di rumah dan setelah itu saya melakukan terapi pijit untuk menghilangkan pegal-pegal badan agar supaya besok saat kembali ke Jakarta tubuh lebih fit.
Tanggal 15 Sept 2010 sebenarnya pukul 12.00 WIB kami berencana berangkat kembali ke Jakarta, namun karena keluarga ada acara ke Kediri, maka terpaksa rencana kembali ke Jakarta saya tunda setelah pulang dari Kediri. Perjalanan menuju kota Kediri kami melewati Kertosono, medan jalan sangat bagus dengan aspal yang masih relatif baru. Sesampainya di Kota, kami lewati pabrik rokok Gudang Garam dan banyak penjual tahu kediri di sana. Kotanya tidak begitu besar, namun tampak bersih dengan tatanan lalul lintas yang cukup baik sehingga terlihat kota ini bersih dan tertib. Sampai di rumah sekitar pukul 17.30, rencana pukul 18.00 saya berangkat ke Jakarta, namun karena kondisi badan capek habis dari Kediri, maka rencana ke Jakarta saya batalkan dan ganti besok hari.
Tanggal 16 Sept 2010 Pukul 13.00 Saya, Istri dan anak bernagkat menuju Jakarta, dengan dilepas oleh sanak keluarga kami mulai perjalanan dengan cuaca yang kurang bersahabat alias mendung dan gerimis. Setengah jam perjalanan, kami disambut hujan lebat di daerah Ploso Jombang sampai didaerah Babat Lamongan (perjalanan 1 jam). Dari Tuban hingga Lasem cuaca gerimis, dan daerah Rembang cuaca cerah. Selam perjalanan kami banyak menjumpai mobil-mobil plat Jakarta dan Bandung mengarah ke Jakarta. Benar juga lalu-lintas terasa padat mulai memasuki kota Pati dan menjadi macet saat masuk wilayah Kab. Kudus. Karena susu anak habis, maka saya mampir di Matahari Kudus untuk beli susu sekitar pukul 20.00WIB. Perjalanan kami lanjutkan dan saya isi BBM si SPBU langganan di daerah Wono Ketingal Gajah, solar saya isi full tank karena saya percaya dengan takaran SPBU ini. Perjalanan saya lanjutkan menuju kota Demak trus ke Semarang.
Sesampainya di Semarang, saya sengaja mengambil jalur pelabuhan bukan toll karena lebih pendek jarak tempuhnya dan jalannyapun bagus. Memasuki daerah Lapangan Bateng dekat bandara Ahmad Yani, lalu lintas sangat padat ke arah Jakarta apalagi setealh bertemu dengan kendaraan yang keluar dari toll. Sampai memasuki daerah kendal lalu – lintas menjadi macet karena banyak truk yang parkir di tepi jalan, kami ambil jalur lingkar dan benar-benar macet sampai lewat tanjakan alas roban. Setelah lewat tanjakakan alas roban, lalu lintas mulai lancar namun iring-iringan arus balik terasa sekali sampai kota Batang. Lepas Batang masuk kota Pekalongan kembali kemacetan menyambut, selepas pertigaan lampu merah mulai lepas macet namun perjalanan tetap beriringan sampai masuk kota Pemalang dan Tegal. Selepas kota Tegal, saya putuskan untuk istirahat di SPBU karena badan terasa capek akibat perjalanan beriringan dan kondisi aspal jalan yang bergelombang.
Setelah istirahat 1 jam, saya lanjutkan lagi perjalanan menuju Brebes dan masuk daerah Pejagan terjadi kemacetan akibat lampu merah dan perlintasan rel kerata api bagi pemudik yang akan melewati tol pejagan. Saya putuskan untuk tidak melalui tol pejagan, sehingga saya lurus sampai di daerah Kanci saya ragu apakah lewat tol atau lewat dalam kota Cirebon. Saya putuskan lewat dalam kota, ternyata perjalanan terasa lebih lama dari pada ditempuh lewat tol karena saya memasuki kota Cirebon sekitar pukul 05.30 sehingga lalu-lintas mulai padat oleh aktifitas penduduk lokal. Arus lalu-lintas bertambah padat setalh bertemu dengan kendaraan yang keluar toll dan beriringan sepanjang jalan pantura Indramayu sampai Subang dan tersendat akibat aktifitas pasar tumpah di daerah Eretan. Matahari mulai terik ketika kami measuki daerah Pamanukan, saya istirahat sebentar di SPBU untuk isi Solar. Perjalanan berlanjut sampai masuk Cikampek, kemacetan sudah terjadi sekitar 10 km menuju pertigaan Jomin dan terus sampai masuk pintu toll Cikopo. Terlihat di pintu toll cikopo ada acara presiden yang sedang meninjau kondisi lalu-lintas di sana. Memasuki toll, konsisi cukup lancar namun kendaraan juga beriringan sampai pintul toll keluar Lenteng Agung dan saya keluar arah Ragunan. Ah…sampai juga di rumah sekitar pukul 11.00 langsung istirahat di rumah, hari ini bolos dan besok pagi baru kembali kerja.
Baca artikel terkait:
1.Persiapan menjelang mudik

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar