04 Januari, 2008

Banjir Besar di wilayah Kudus,Demak,Pati,Grobogan


Salah satu penyebab banjir besar di Kudus pada Jumat (28/12) adalah belum terlaksananya pembangunan enam waduk di sepanjang sungai Lusi, yaitu waduk Banjarharjo, Kedungsapen, Kedungwaru, Tirto, Ngemplak, dan Bandungharjo. Sungai Lusi yang berhulu di Kunduran, Banjarejo, Kabupaten Blora, samasekali belum pernah terjamah pembangunan. Akibatnya, sungai ini masih tetap sebagai salah satu sungai besar penyebab banjir di Kabupaten Grobogan, Demak, Kudus, Pati, hingga Blora (Jawa Tengah).Sebelum ujung Sungai Lusi menyentuh bibir Laut Jawa, terlebih dahulu harus melewati wilayah Kecamatan Ngaringan (Blora), Wirosari, Tawangharjo, Panunggalan, Purwodadi, Godong (Kab. Grobogan) dan Dempet (Kabupaten Demak). Namun, ketika sampai di pintu pembagi banjir Wilalung yang terletak di perbatasan Kec. Undaan (Kab Kudus) dan Kecamatan Gajah (Kabupaten Demak), alirannya dipecah ke arah Sungai Juwana dan Wulan.Sungai Lusi yang panjangnya puluhan kilometer ini harus menampung aliran Sungai Serang, Glugu, Peganjung, Klampis, dan puluhan sungai kecil lainnya. ”Jadi, beban yang disandang Sungai Lusi cukup berat. Akibatnya, ”badan” sungai menjadi compang-camping. Ada yang menyempit, melebar, dalam, dan ada pula yang penuh lumpur. Semua yang bersifat tidak normal ini menjadikan Sungai Lusi sebagai salah satu biang kerok banjir di Kabupaten Blora, Grobogan, Demak, Kudus, dan Pati, Selain itu, menurut hasil evaluasi Balai Pengelolaan Sumber Daya Air (BPSDA) wilayah Sungai Serang, Lusi, Juwana (Seluna), yang dituangkan dalam bentuk laporan tertulis per Senin (31/12), kondisi pintu pembagi dan pengatur banjir Wilalung di Kecamatan Gajah Kab. Demak yang merupakan peninggalan Belanda yang sudah berusia 73 tahun, tidak dirawat sebagai mestinya. Semula ada pemikiran dari DPU Pengairan Jawa Tengah akan "dimuseumkan" karena dianggap sudah tidak diperlukan lagi. Akan tetapi, setelah dikaji lebih mendalam dan melihat kondisi di lapangan, pintu pembagi banjir ini dioperasikan kembali.Kondisi pintu yang mengarah ke Sungai Juwana yang berjumlah sembilan pintu ini (lawang songo) sudah tidak berfungsi sempurna. Sebagian tidak bisa digerakkan naik-turun, sebagian lagi malah hilang dicuri. Maklum, masing-masing pintu terbuat dari kayu jati dengan ketebalan rata-rata 30 sentimeter sehingga masih laku untuk dijual. Dam pengendali banjir Wilalung yang salah satu pintunya jebol seminggu lalu, dituding awal penyebab banjir ini. Hal itu masih ditambah kapasitas Sungai Wulan sudah menurun dari 1.000 meter kubik per detik menjadi 725 meter kubik per detik. Kapasitas Sungai Juwana juga merosot drastis dari 1.650 meter kubik per detik menjadi 150 meter kubik per detik .Termasuk tingginya curah hujan di Blora dan Grobogan, serta belum penanganan yang memadai dan menyeluruh sejak rehabilitasi CIWA Scheme 1986.Berbagai kondisi itulah yang menyebabkan tanggul kanan Sungai Wulan di Desa Medini Kec. Gajah Kab. Demak jebol, lalu diikuti jebolnya tanggul yang sama di tujuh lokasi sehingga total panjang tanggul yang jebol mencapai 203 meter dengan kedalaman enam meter.Jebolnya tanggul tersebut mengakibatkan 6.092 hektar lahan pemukiman penduduk dan persawahan di Kecamatan Undaan, Mejobo, Jekulo, Jati, dan Kaliwungu tergenang banjir rata-rata setinggi dua meter. Akibatnya, 35.000 rumah tergenang dan menyebabkan 12.076 jiwa warga mengungsi.
Selama 20 tahun terakhir, Kali Juwana yang panjangnya lebih dari 30 kilometer semakin menyempit (lebar aslinya rata-rata 30-60 meter).Kali yang melewati wilayah Kecamatan Undaan, Mejobo, Jekulo, Kabupaten Kudus, Sukolilo, Kayen, Margorejo, Gabus, Juwana, Kabupaten Pati, itu belum pernah dikeruk, apalagi dinormalisasi. Kecuali di bagian muara hingga seputar Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Bajomulyo dan seputar Koperasi Unit Desa (KUD) Sarono Mino Juwana yang sudah beberapa kali dikeruk. Akibatnya, terutama pada musim hujan, Kali Juwana menjadi "biang keroknya" banjir di wilayah Kabupaten Kudus dan Pati. Lahan pertanian tidak jarang menjadi korban akibat banjir dari kali tersebut. Hal ini sebenarnya sudah dikeluhkan masyarakat petani dari tahun ke tahun, namun belum ada tanggapan. Banjir di Kudus tersebut bahkan meluas dan menggenangi pemukiman dan sawah di Kecamatan Sukolilo, Kayen, Winong, Gabus, dan Juwana. Luas lahan yang tergenang mencapai 5.908 hektar. Untuk menanggulangi banjir tersebut, Balai Besar Pemali Juwana telah mendesain perbaikan Sungai Wulan sehingga kapasitasnya bisa ditingkatkan menjadi 1.100 meter kubik per detik.
Dengan demikian harus dikaji ulang sistem Seluna dibarengi dengan pemeliharaan sungai secara berkelanjutan, pengamanan daerah sempadan sungai. Perlu dibentuk tim yustisi tingkat provinsi dan tingkat kabupaten maupun paguyuban peduli Sungai Seluna.

Baca artikel terkait:
1.Banjir awal 2008
2.Sungai Klambu dan Wulan meluap
3.Peta banjir Kab. Demak
4.Genangan Air di Jakarta bikin macet

1 komentar:

  1. bagus, Mas..semoga permasalahan banjir segera dpt diatasi ya,...

    BalasHapus