27 Desember, 2012

Jakarta - Bali dengan Panther

Usai sudah liburan kami sekeluarga tahun ini dengan mengunjungi beberapa objek wisata dengan rute : Jakarta - Bali PP. Dengan mengendarai Isuzu Panther Royal 1999 menempuh total 3400KM dengan beberapa kota yang kami singgahi :
- Tanggal 1 Des 2012 pukul 13.oo WIB : Berangkat dari Jakarta menuju Bandung via Tol Cipularang dan sampai di Bandung sekitar jam 15.oo WIB. Ketemu teman sekalian ganti dua buah ban depan merek Dunlop type e70 (harga Rp.1.170.ooo untuk 2 buah). Sedangkan ban belakang masih pakai ban yang lama Bridgestone B250. Sekalian ganti oli dan filter oli sekalian cek kaki-kaki dan ternyata kedapatan Karet bos arm roda depan kiri mulai tipis dan terdapat oblakan. Berhubung waktu sudah sekitar jam 19.30 dan bengkel tersebut juga tidak punya spare part, terpaksalah kami melanjutkan perjalanan menuju Demak dengan hati-hati dan merayap (kecepatan rata-rata 60km/jam). Sehabis makan malam sekitar jam 20.00 WIB, perjalanan dari Bandung kami lanjutkan menuju Sumedang dan istirahat di tol Cirebon sekitar jam 22.30WIB.
Pukul 23.30 WIB perjalanan kami lanjutkan menuju Brebes-Tegal-Pemalang-Pekalongan-Batang- dan istirahat di kawasan Alas roban sekitar jam 04.00 WIB.
- Tanggal 2 Des 2012 pukul 6.00 WIB pagi perjalanan kali lanjutkan menuju Weleri - Kendal - Semarang dan tiba di Demak sekitar jam 8.00 Pagi hari.
Malam hari kami adakan makan bersama dengan keluarga besar di KFC Ramayana Kudus. Dalam perjalanan ternyata jembatan Tanggul angin yang merupakan perbatasan Kab. Demak dan Kab. Kudus mengalami perbaikan yang sisi arah Kudus ke Demak sehingga harus melalui jembatan satunya (jembatan lama) alhasil lalu lintas macet karena satu jembatan untuk dua arah kendaraan.
- Tanggal 3 Des 2012 jam 8.00WIB saya perbaiki kaki-kaki mobil dengan bantuan teman karib (kebetulan berprofesi sebagai montir). Untuk kaki depan kiri harus ganti karet bos arm dan ganti ball joint atas, sedangkan kaki depan kanan cukup ganti karet bos arm. Total biaya sekitar Rp.450.000 (termasuk spare part dan jasa servis). Lumayan kendaraan jadi lebih enak dan pikiran lebih tenang.
Sore hari kami bawa mobil menuju kudus untuk membelikan perhiasan anak-anak di salahsatu toko emas yang cukup terkenal di Kudus yakni Toko Emas Tjandi di jalan Sunan Kudus (dekat alun-alun simpang tujuh).
- Tanggal 4 Des 2012 jam 14.00 WIB saya sekeluarga berpamitan dan melanjutkan perjalanan menuju Nganjuk via Pantura Jateng (Kudus-Pati-Rembang-Tuban-Babat-Nganjuk), sampai disana sekitar jam 20.00WIB. Sepanjang perjalanan kondisi cuaca hujan, sehingga saya tidak bisa memacu kendaraan terlalu kencang.
Setiba di Nganjuk kami beristirahat di rumah orang tua.
- Tanggal 5 Des 2012 jam 10.00 WIB saya memanggil tukang pijat karena badan terasa pegal-pegal. Jam 12.30 kami sekeluarga berjalan-jalan ke Kertosono dan Nganjuk untuk makan Sate + Gule khas Nganjuk.
- Tanggal 6 Des 2012 jam 10.00 WIB saya mempersiapkan bekal dan perlengkapan untuk perjalanan ke Bali. Setelah saya periksa ternyata ban belakang kiri mengalami gembung, sehingga mau gak mau harus diganti.
Jam 18.00 WIB kami berangkat melalui Kertosono dengan harapan dapat ganti Ban di toko ban langganan yang ada di Jombang. Namun setiba di sana ternyata tokonya tutup terpaksa saya keliling Jombang untuk cari ban bekas pakai yang masih bagus untuk dipasang di roda belakang kiri. Namun setelah berkeliling sampai jam 21.30 kami belum juga mendapatkan ban yang cocok, akhirnya saya putuskan untuk pulang kembali ke rumah. Rencana berangkat jadi saya tunda besok pagi dengan harapan toko ban langganan sudah buka.
- Tanggal 7 Des 2012 jam 06.00 WIB saya kami berangkat, sebelum berangkat saya sempatkan untuk mengingatkan istri dan adik-adik untuk memeriksa dan meastikan KTP sudah dibawa. Hal ini karena akan dilakukan pemeriksaan di pelabuhan Gilimanuk sebelum bisa melanjutkan perjalanan di Bali.
Setelah semua siap, perjalanan saya mulai dengan menuju toko ban langganan di Jombang dan alhamdulillah toko sudah buka. Saya beruntung mendapatkan sebuah ban Bridgestone B250 bekas yang masih bagus (70%) dengan tahun pembuatan 2010. Seimbang dengan ban belakang kanan yang juga B250. Harganyapun juga masih wajar cuma Rp.120.000 sudah terima beres.
Setelah ban selesai dipasang, kami lanjutkan perjalanan menuju Mojokerto. Perjalanan menempuh sekitar 30 menit dan kami isi solar Rp.120.000, sambil iseng tanya ke petugas SPBU mengenai jalur yang bisa kami lewati untuk ke Bali. Dia menyarankan Benar saja setelah 10 menit berjalan dari SPBU ada sebuah perempatan lampu merah dan menunjukkan arah Mojosari/Pasuruan/Malang, akhirnya saya belok kanan mengikuti arah yang ditunjuk. Sekitar 15 menit perjalanan kami melewati jalan arteri menuju Mojosari dan akhirnya setelah 30 menit perjalanan kami tiba di Gempol sekitar pukul 11.00 WIB
Kemudian kami menuju bundaran Apollo di Gempol dan belok ke kiri ke arah Pasuruan. Sekitar 30 menit kami sampai di Bangil sebuah kota kecamatan di barat Pasuruan. Kotanya kecil namun terlihat suasana islami yang cukup kental karena memang bertepatan dengan waktu sholat Jumat.
Sekitar 30 menit kami melalui Bangil akhirnya kami tiba di kota Pasuruan sekitar jam 12.00 WIB, sepertinya sholat jumat sudah selesai karena kami lihat banyak orang keluar dari masjid. Sepanjang perjalanan dari Gempol menuju Pasuruan melewati jalan yang sangat bagus (aspal sepertinya masih belum terlalu lama diperbaiki).
Kami terus menyusuri kota Pasuruan dan akhirnya keluar kota menuju arah Grati sebuah kota kecamatan juga. Kondisi jalan masih baru dan terlihat sedang ada pekerjaan pelebaran jalan, hal ini terlihat dari adanya penggusuran bangunan-bangunan yang terkena pelebaran.
Sekitar 30 menit kami masuk kota Probolinggo. Tidak jauh dari pintu masuk kota terdapat dua pilihan jalur menuju Bali. Bisa lurus ke timur (via pantura Situbondo-Banyuwangi) atau belok kanan via jalur tengah (Klakah/Lumajang-Jember-Banyuwangi. kami sengaja memilih jalur utara karena sebelumnya saya sudah pernah melewati jalur tengah, dengan kondisi medan yang bergunung-gunung (gunung Kumitir).
Kota probolinggo cukup lumayan untuk ukuran kota kabupaten, dengan kondisi kota yang cenderung memanjang mengikuti jalan raya. Kondisi kota juga cukup teduh karena masih banyak pepohonan besar sepanjang jalan dalam kota. Ada sebuah perempatan lampu merah dan saya berhenti, saya melihat ke kanan dan terdapat sebuah menara air cukup besar dengan cat warna biru. Terpikir oleh saya siapa yang merencanakan struktur tanki air ini? maklum sebagai seorang Civil Engineer ketika melihat bangunan langsung berfikir seperti itu. Ah septintas lalu lampu hijau menyala dan kami lanjutkan lagi.
Tidak lama kami akhirnya keluar kota probolinggo, saya putuskan untuk beristirahat dan mencari SPBU. Tidak jauh dari gerbang kota (sekitar 10 menit) ada sebuah SPBU di sebelah kanan jalan, dan saya putuskan untuk masuk dan beristirahat. Jam menunjukkan pukul 13.00 WIB dan kondisi cuaca panas terik, SPBU cukup bagus untuk beristirahat karena memiliki saung-saung kecil dan banyak penjual makanan. Ada juga musholla dan toilet. Sambil beristirahat saya ngobrol dengan sesama pengendara mobil lain yang juga sedang beristirahat disana.
Berhubung cuaca masih panas terik, maka saya putuskan untuk beristirahat lebih lama dan saya berencana melanjutkan perjalanan kembali sekitar pukul 15.00 WIB dengan harapan lebih adem. Setelah waktu menunjukkan pukul 15.00 saya berencana melanjutkan kembali perjalanan, namun disinilah drama dimulai tatkala saya meraba kantong dan saya tidak menemui dompet. betapa panik saya dan istri segera mencari dompet berisi SIM/KTP yang mutlak harus dibawa dan ditunjukkan kepada petugas saat menyeberang ke Bali. Segera saya telpon rumah dan menanyakan apakah dompet saya tertinggal, betapa sedih dan paniknya kami ketika mengetahui bahwa benar dompet saya tertinggal di rumah. Perasaan sedih kecewa dan dongkol menyelimuti kami semua, bagaimana bisa saya yang sebelum berangkat sudah mengingatkan orang-orang akan KTPnya ternyata saya sendiri tidak membawa KTP dan SIM. Waduh...bener-bener pening kepala, mau pulang sudah jauh, mau lanjut jelas tidak mungkin bisa nyeberang ke Bali...waduh...
Dengan perasaan kecewa, saya berusaha menghibur orang-orang dan saya berencana membawa mereka ke Pantai Pasir Putih di Situbondo setelah itu ke Gunung Bromo.
Dengan perasaan kecewa, tepat pukul 15.00 WIB perjalanan kami lanjutkan ke Pantai Pasir Putih, di perjalanan saya berfikir keras kira-kira ada solusi apa agar kita tetap bisa ke Bali..setelah 20 menit perjalanan kami sampai di kota Kraksaan dan ternyata saya mendapatkan ide..saya ingat kalau saya punya seorang teman di Probolinggo..yah..M. Rofiq namanya, dia adalah teman semasa kuliah di Malang. Saya buka profil Facebook dan mendapatkan nomor telponnya. Langsung saya telpon dan alhamdulillah diangkatnya. Kendaraan segera saya tepikan dan berbicara dengannya, dan alhamdulillah dia punya SIM A. Saya meminjam dan meminta alamatnya. Ternyata di tinggal tidak jauh dari menara air yang sempat saya lihat di kota Probolinggo. Langsung saya putar balik kembali ke kota Probolinggo tempat dia tinggal.
Sekitar 30 menit saya tiba dan bertemu dengan sahabat lama saya ini, sebentar saya sempatkan untuk singgah di rumahnya dan bertemu dengan anak istrinya. Tak terasa kami ngobrol hingga hampir magrib (sekitar jam 17.30 WIB), dan kami berpamitan untuk melanjutkan perjalanan ke Bali...alhamdulillah ada jalan...
Perjalanan kami lanjutkan melewati batas kota probolinggo trus kembali ke kota Kraksaan tempat saya tadi putar balik dan terus saya lanjutkan sampai di Paiton. Disana terdapat pembangkit listrik yang sangat besar dan terlihat seperti bangunan yang indah di malam hari. Terdapat banyak chimney (cerobong) dan bangunan baja lengkap dengan pipa-pipanya terlihat sangat indah dengan banyaknya cahaya lampu mercury. Letaknya cukup bagus di bawah bukit dan ditepi laut sehingga kami dari mobil bisa melihat dengan cukup jelas dari perbukitan. Setelah melewati Paiton tepat pukul 19.00 kami sampai di sebuah SPBU dan saya putuskan untuk istirahat. Rupanya SPBU ini sangat bagus lengkap dengan penginapan, restoran, minimarket, toilet dll. ini adalah salah satu SPBU terbaik yang pernah saya lihat. Banyak kendaraan beristirahat dan terlihat beberapa bus pariwisata juga beristirahat. suasana SPBU terlhat cukup ramai. Saya beristirahat cukup lama karena saya pikir saya tidak istirahat lagi sampai di Penyeberangan.
Pukul 21.00 WIB perjalanan saya lanjutkan lagi tentunya dengan perasaan yang senang karena kami bisa ke Bali, namun dibalik itu semua masih ada tersirat rasa khawatir karena foto SIM dan KTP miliki teman rupanya sangat berbeda jauh dengan diriku. Waduh gimana nanti kalau ketahuan nih...akhirnya sepanjang jalan saya berusaha menghafal data-data SIM dan KTP..wuih...puyeng.
Sekitar 30 menit perjalanan kami sampai di Pantai Pasir Putih dan terus berlanjut sampai di kota Besuki sebuah kota kecamatan. Lanjut terus akhirnya sampai di Kota Situbondo sekitar jam 22.00 WIB. Air panas habis sehingga mau tidak mau harus beli air panas untuk bikin susu anak-anak. akhirnya kami menepi dan membelinya.
Berlanjut sekitar pukul 22.30 kami sudah sampai di Panarukan sebuah kota kecamatan yang menyimpan sejarah pada masa Gubernur Jenderal Deandless yang pernah membangun jalan dari Anyer - Panarukan.
Perjalanan terus kami lanjutkan dan sekitar 30 menit kami mulai masuk hutan Baluran, suasana cukup ramai dengan banyaknya truk dengan medan jalan yang cukup berliku namun kondisi jalan sangat bagus. Rupanya hutannya cukup luas karena butuh waktu lebih dari 20 menit untuk keluar hutan. Saya sempat membandingkan dengan Alas Roban di Batang sepertinya masih jauh Hutan Baluran. Setelah keluar hutan kami mulai memasuki wilayah Kabupaten Banyuwangi.
Namun perasaan saya sedikit terusik karena tadi waktu melalui hutan terdapat banyak kendaraan, justru ketika keluar hutan malah sepertinya sepi sekali. Saya meilhat Jam dan sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB namun sepertinya malam sudah larut sekali. Saya baru tersadar bahwa ini kan sudah masuk wilayah perbatasan dengan waktu Indonesia Tengah, pantas saja sepertinya sudah sangat larut..seharusnya jam sudah maju satu jam..Mobil terus saya pacu menuju Pelabuhan Ketapang melewati obyek wisata Watudodol dan tidak lama berselang mulai terlihat gemerlap lampu pelabuhan. Wah sudah dekat rupanya..makin semangat untuk segera bisa menyeberang ke Bali.
Jam 23.30 saya sampai di Pelabuhan Ketapang, setelah memasuki pintu gerbang pelabuhan saya membayar tiket penyeberangan seharga Rp.114.000 (untuk sekali penyeberangan dengan mobil). Mobil masuk kapal dan tidak lama kapal fery berlayar menuju Bali..wuihhhh akhirnya sampai juga....
Sekitar 45 menit kapal berlayar akhirnya tiba dan bersandar di Pelabuhan Gilimanuk Bali.

- 7 Desember 2012 jam 00.30 kami keluar kapal dan segera memasuki pintu pemeriksaan. Benar juga kata orang-orang bahwa kami akan diperiksa. Terlihat 4 orang anggota POLRI berjaga dan segera seorang anggota POLRI menghampiri mobil dan memeriksa surat kendaraan. Dengan segenap perasaan was-was saya serahkan STNK dan SIM A milik Rofiq..waduh..Polisi tersebut dengan bantuan senter memeriksanya..pasrah deh saya dan berharap bisa lolos. Alhadulillah..mungkin masih rejeki kami, anggota polisi tersebut mempersilahkan kami lanjut. Namun pemeriksaan tidak berhenti saja di sana, 20meter kami berjalan di depan sudah menuggu anggota SATPOL PP dan segera memeriksa KTP saya dan Istri..alhadulillah..lolos..dengan perasaan sangat gembira saya kembali melanjutkan perjalanan.
Begitu keluar dari pintu gerbang pelabuhan, mulai bingung saya. Mau kemana kita di Bali sedangkan Peta juga tidak terbawa..waduh...ada lagi ini persoalannya..namun dengan modal nekat dan filing sopir saya lanjutkan perjalanan. Saya merasa sedikit asing dengan kondisi jalan karena terlihat seperti memasuki lorong panjang yang tidak ada habisnya, lorong itu terbentuk dari pepohonan kanan dan kiri yang sepertinya saling bertaut sehingga terlihat kita sedang berada dibawah lorong.
Sekitar 5 menit saya tiba disebuah pertigaan dengan tulisan lurus ke Denpasar dan kekiri ke Singaraja. Mobil saya hentikan dan suasana sepi sekali. Filing sopir saya mengatakan sebaiknya saya lurus saja karena sala melihat kekiriri suasana jalan terlihat gelap tanpa ada penerangan. Yah lurusa saja lah..
Cukup lama saya menyusuri jalan itu dan setelah 10 menit perjalanan, akhirnya saya lihat sebuah SPBU dan saya belokkan kendaraan kesana alih alih isi solar dan bertanya pada petugas SPBU.vMobil saya isi solar sebanyak Rp.120.000 sambil bertanya tempat mana yang paling tepat untuk disinggahi? dia menjawab ke Denpasar saja karena cukup 4 jam sedangkan kalau ke Kintamani cukup jauh sekitar 6 jam. Dengan perasaan yang masih bingung akhirnya mobil saya jalankan.
Filing sopir saya muncul lagi, saya melihat mobil yang sedang mengisi solar di belakang saya adalah sebuah bus pariwisata dengan nomor polisi AA (wilayah Magelang). Ah..pasti mereka mau menuju tempat yang tepat entah dimana lah..akhirnya saya tunggu mobil tersebut dan saya putuskan untuk mengikutinya. Tak berselang lama bus tersebut berjalan dan saya ikuti terus dibelakangnya. Tak berselang lama muncul dua buah bus pariwisata juga dengan kecepatan tinggi menyalip kami, semakin mantap pikiran saya untuk ambil arah ke Denpasar.
Medan jalan semakin naik turun dan bekelok-kelok seperti jalur pegunungan. Banyak truck juga dengan susah payah melewati jalan tersebut. Semakin lama semakin susah medan jalan yang saya lalui dengan tanjakan dan turunan tajam serta tikungan-tikungan sulit terus menerus didepan..wah..makin sulit dan menantang medan jalannya. Saya sebelumnya tidak mengetahui jikalau medan jalan dari Gilimanuk sampai ke Denpasar adalah medan pegunungan dengan trek naik turun dan tikungan tajam.
Selama 4 jam kami menyusuri medan pegunungan, akhirnya saya sepertinya memasuki wilayah perkotaan dan benar saja sekitar pukul 04.30 WITA saya sudah memasuki daerah menuju Pantai Pura Tanah Lot. Ada sebuah perempatan dan bertuliskan lurus ke Denpasar dan Kekanan ke Tanag Lot, segera mobil saya belok ke kanan mengikuti petunjuk tersebut. Anehnya tidak jauh dari perempatan tadi terdapat sebuah pasar dan jalanan menjadi sangat sempit akibat dipakainya jalan untuk aktifitas pasar. Setelah melewati pasar tersebut saya jadi ragu apa benar jalan ini..mana mungkin bus besar bisa melewati jalan itu???wah..jangan-jangan saya salah ini.
Sampai disebut pertigaan saya turun dan bertanya pada warga yang kebetulan sedang berada di sebuah warung, dengan sopan saya bertanya arah ke Tanah Lot dan mereka membenarkan jalan yang saya ambil. lanjut terus sekitar 15 menit perjalanan saya menjumpai pasar kembali dan terdapat pertigaan tanpa penunjuk arah. Saya kembali turun dan bertanya kepada warga, mereka menunjukkan arah ke kanan. Saya lanjutkan kembali perjalanan dengan ambil arah ke kanan dan sekitar 10 menit saya tiba di Pantai Pura Tanah Lot.
Gerbang parkir terbuka dan suasana masih sangat sepi karena masih jam 05.30 WITA, karena belum ada petugas jaga gerbang, saya dipersilahkan masuk oleh anggota polisi yang kebetulan sedang ada di sana. Betapa kagetnya saya ketika meulai memasuki tempat parkir..ternya disana sudah ada benyak Bus Pariwisata (mungkin lebih dari 10 bus) dan sepertinya adalah Bus yang saya jumpai di SPBU di Paiton Probolinggo. Senang sekali saya dan keluarga segera menuju area wisata Pura Tanah Lot.
(tobe continued)

7 komentar:

  1. Perjalanan yang menyenagkan, mudah2an menjadi cerita indah bagi keluarga anda.....,,,
    Sekalian tanya mas....
    Saya baru nebie baru dapat panther, dan baru service Bospom (ganti nozel), sekarang mesin tambah enak dan tarikan tambah kuat,cuma yg saya rasakan sekarang bunyi mesin kok tambah kasar ya ??? Mohon infonya .....
    Oy maksud kasar = sebelum d service dan seminggu setelah d service masih lebih halus.., trims

    BalasHapus
  2. Terimakasih,
    Coba baca artikel Merawat Panther ya..
    Kalau boleh tahu Panther type dan tahun berapa?
    Jangan kuatir, mesin diesel memang demikian,setelah diganti nozle maka pembakaran menjadi lebih baik karena semprotan solar mengkabut lebih sempurna sehingga terkesan suara lebih kasar. Mungkin juga setelan solar dibuat lebih rich sehingga mesin lebih kasar dan lebih bertenaga.
    Banyak orang berkata semakin kasar semakin bertenaga.
    Yang penting perhatikan tingkat konsumsi BBM ya..

    BalasHapus
  3. ISUZU TBR52 BFSR, STATION WGN, TH 1991, 02238 CC, Maaf mobil tua tapi mobil pertama dan kesayangan kami, ijin nyimak untuk belajar... trims tanggapannya, nanti tanya2 lagi !!!! maturnuwun

    BalasHapus
    Balasan
    1. oke..bagi pengalaman juga mengenai kucingnya

      Hapus
  4. Touring dng keluarga pakai PHANTER yang menarik untuk disimak bisa buat referensi.
    Mas Eko, saya pakai Touring 2002 sdh hampir 4th saya pakai nyangkul Surabaya-Gresik
    Seminggu ini kayaknya bermasalah, pagi hari rutin saya panasi kondisi stasioner suara mesin tdk stabil bahkan mati setelah di start kembali bisa dipaksakan ke Gresik dan diperjalan tdk masalah. Pulang dinas saat start awal kondisi suara mesin seperti pagi hari kemudian tgl.23 Agustus 2013 sdh ke bengkel di tune up, ganti filter solar,olie & udara tapi permasalahannya belum tuntas dan tarikanya kurang wus..wus & kayaknya konsumsi BBM agak boros.
    Sekian mohon pencerahan mas bro EKO

    Salam, Rachmanto

    BalasHapus
  5. mas eko kalo boleh tahu di jombang toko ban langganan apa? pingin coba2 cari ban bekas juga...

    BalasHapus
  6. Coba di daerah dekat pabrik gula di jombang pak..kalau dari arah kertosono itu sebelum masuk kota jombang sebelah kiri. disana ada 2 toko ban yang cukup besar

    BalasHapus